Kamis, 22 September 2016

Nanga Suhaid


Kecamatan Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu. Yang  jaraknya sekitar 173 km atau 3 jam 38 menit tanpa macet, dan atau 4 jam 190 km melalui jalan santo fidelis. Sedangkan jarak dari Pontianak kesuhaid melalui jalan darat sekitar 15 jam tanpa kendala atau sedangkan jika kamu melalui jalan air dengan kendaraan motor bandung kamu memerlukan waktu sekitar 3-5 hari Kecamatan Suhaid adalah desa hasil pemekaran dari kecamatan Semitau pada tahun 1996, Kecamatan Suhaid letak geografisnya berada di persisiran Sungai Kapuas, yang berarti mayoritas pekerjaan masyarakat disana adalah sebagai Nelayan. Nanga Suhaid adalah bersuku Melayu. Yang asalnya notaben suku kapuas hulu adalah dayak karena kedatangan kaum pendatang atau kaum melayu tersebutbsecara tidak langsung mendesak suku asli secara berangsur-angsur semakin masuk ke pedalaman. Sperti kasus-kasus yang sama terjadi pada mahasiswa-masiswa kecamatan Suhaid setiap pertama kali baru menginjak dunia kampus, pasti dosennya selalu nanya,
A: ‘’Kamu suku apa ? “
B:  “Saya suku Melayu buk !!” “
A: Ohh iyakah tapi kamu mirip Dayak” kata dosen tesebut
Sambil tersenyum saya berfikir dan berceria kekawan-kawan saat pulang ke kosan, ternyata bukan saya saja yang pernah dikatakan seperti itu, namun kawan-kawan yang lain juga pernah.
Jadi pada dasarnya suku Melayu kecamatan suhaid adalah suku akuan, dikarena banyak yang beragama islam, jadi secara spontan kami mejawab kami adalah melayu sejati.
Seperti pencitraa yag dibawa dari identitas laut da darat, bahwa laut melambangkan kemajuan sementara darat melambangkan ketertinggalan. Seperti masyarakat suhaid pada umumnya, masyarakat yang mengakuinya sebagai melayu mereka bertempat tinggal di persisiran sungai kapuas sementara masyarakat suhaid yang agamanya mayoritas katolik atau kristen mereka bertempat tinggal didaratan tinggi, hal ini disebabkan dulunya penyebaran islam di Kapuas Hulu berdatangan ke hulu-hulu sungai sehingga secara berangsur-angsur masyarakat terpengaruh dengan budaya yang dibawa oleh islam tersebut, dan masyarakat yang tidak terima atau yang tetap mempertahankan budayanya mereka pergi kedaratan tinggi untuk tetap mempertahankan budayanya.
Dalam perkembangannya Nanga Suhaid juga dikenal dengan “Bumi Arwana”, karena merupakan habitat asli dari ikan arwana yaitu Sungai Tawang dan setiap perumahan pasti ada yang merawat ikan Arwana baik didalam aquarium atau juga dibuat kolam ikan Arwana. Kecamatan Suhaid merupakan daerah terbesar penangkaran arwana jenis super red. Para penangkar arwana ini bisa dibilang orang-orang yang berpenghasilan tinggi, karena dalam setahun para penangkar tersebut bisa menghasilkan ratusan juta rupiah dari hasil penjualan anak arwana ke Pontianak yang di ekspor ke China dan Jepang. Hal inilah yang mendorong laju pertumbuhan ekonomi di Nanga Suhaid.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar